Hal yang kupetik dari kegagalanku dalam berbisnis

Kegagalan bukan berarti akhir dari segalanya, tapi itu sebuah pelajaran mahal yang bisa dipetik untuk bekal di kemudian hari. Yes, memang tidak mudah ya buat maju ke depan jika kita masih belum bisa move on dari kesalahan kita. Menurut kalian, apa yang bisa kalian petik dari kegagalanku di video ini?

RUANG TUMBUH

3/31/20264 min read

Kadang memulai bisnis itu tidak selalu berjalan mulus, syukur kalau itu mulus tapi kalau gagal gimana? Nah, aku selalu mengambil poin-poin pembelajaran untuk bekalku di kemudian hari.

Disklaimer, kalau kalian ada yang mungkin gagal juga jangan menyerah dan kalau kalian ada yang berhasil. Congratulation! Ini adalah konten berbentuk opini dan pengalaman pribadi Cindy dalam memulai berbisnis ya.

Ada beberapa hal yang aku pelajari dari memulai bisnis lalu gagal.

  1. Memperbagus desain aja tapi tidak ada marketing plan

    Sebenarnya basic aku adalah graphic dan multimedia design, jadi hal yang aku prioritaskan bagian logo dan websites aja, tapi tidak kepikiran mau membuat marketing dan social media plan.

    Jadi aku punya cerita, dulu pas aku memulai bisnis subscription snack box, aku itu fokuskan diriku untuk desain logo, website, packaging design aja tapi tidak kepikiran sama sekali tidak kepikiran dengan social media marketing. Jadi pas launching produk dan tidak ada yang melirik sama sekali. Jadi aku cukup down dan berhenti.

    Nah, ini pentingnya kalau ada digital marketing dan social media planning agar ada sumbu yang dapat menyambung hidup bisnis.

  2. Cash flow tidak siap tapi overspending terus

    Aku pernah denger dari salah satu influencer namanya Ko Theo Derrick, kalau cash flow itu penting banget! Itu ada minyak atau bahan bakar dari core sebuah bisnis. Namun aku melakukan kesalahan diawal-awal yaitu overspending atau menghabiskan uang untuk berbelanja dengan alasan “kebutuhan bisnis”.

    Kamu masih ingat ga, ketika Covid-19 dulu, orang-orang pernah gila beli tanaman karena bisa cepet cuan? Aku salah satu korban Instagram dan Youtube pada saat itu untuk menjadi penjual tanaman. Random abis ga tuh. Sekarang ketika aku nulis ini, mikir goblok juga ya diriku ini. Anyway, pada saat itu aku baru pulang dari Australia ke Indonesia for good, jadi aku memulai semuanya dari 0 lagi.

    Ini terkena iming-iming influencer pemilik tanaman kalau mereka ada koleksi tanaman ABC dan bisa berkembang biak buat dijual dengan harga tinggi. Ya, aku otomatis kemakan dan beli tanaman-tanaman sampai paling ga seratus jutaan, dengan alasan nanti bisa dijual dan balik modal dengan cepat! WHAT!

    Ternyata, tidak segampang itu buat beli tanaman dan memperbanyak lalu diperjual belikan dengan sangat mahal. Aku pun rugi besar. Sedih, sedih banget dan aku ga bisa berkata-kata. Tapi untungnya aku rugi dengan uang tabungan aku bukan dengan hutang.

    Padahal papa aku uda mengingatkan aku buat jangan beli tanaman karena cari duit itu susah banget. Dari yang sudah down aku, tambah down lagi deh aku. Aku akhirnya sadar, aku itu sebenarnya tidak terlalu mahir dalam merawat tanaman tapi termakan dengan pencapaian orang lain.

    Inti sebelum memulai bisnis apa pun, jangan terlalu banyak spending duit sebelum mendapatkan pemasukan untuk bisnis.

  3. Motivasi memulai bisnis dengan alasan hanya duit saja.

    Di poin ini, masih sama dengan cerita pengalaman aku memulai bisnis tanaman dulu, motivasi aku hanya duit tapi aku ga terlalu sayang sama tanaman aku. Ya bener motivasi aku pure hanya duit.

    Jadi seiring berjalannya waktu, motivasi aku dalam tanaman perlahan-lahan mulai padam. Aku mulai jarang siram tanaman aku dan malas banget membersihkan taman lotengku. Aku hanya lihat-lihat sesekali dan ya udah ga pernah lagi nyiram. Alhasilnya, tanaman aku mati semuanya dan rugi besar!

    Intinya kalau memulai bisnis jangan karena hanya keinginan sesaat dan motivasi hanya duit. Pada akhirnya bisnis tidak akan punya sumbu hidup yang panjang.

  4. Mulai tanpa bisnis planning sama sekali

    Okay, aku ngerti semua orang pasti pengen mulai bisnis itu mau cari duit sebanyak banyaknya, tapi kalo motivasinya hanya duit pasti cepet habis bensin motivasinya.

    Aku punya cerita tentang aku memulai bisnis karena duit. Jadi ada nih ads yang keluar di Instagramku tentang franchise kecil dan mulai jualan dengan modal hanya 8 jutaan kalau ga salah. Jadi aku tertarik banget buat memulai bisnis ini tanpa ada planning apapun.

    Jadi tidak ada planning dan goals sama sekali, aku belilah peralatan dan bahan baku dari salah satu franchisee di Semarang. Bayangkan seberapa mahal barang-barang dan bahan baku dari Semarang ke Medan, muahall! Ketika barang-barang sudah sampai, baru aku hitung-hitung dengan harga jual tidak dapat cuan banyak sama sekali. Aku coba cari tempat yang pas, tapi tidak dapat yang cocok. Karena tidak ada planning mau pun bensin motivasi, akhirnya aku uda ga lanjutin sama sekali.

    Intinya, lebih baik ada planning untuk memulai bisnis agar bisnis bisa mulai berjalan dan berkepanjangan sampai bertahun-tahun.

  5. Terlalu cepat menyerah tapi belum ada untuk dievaluasi

    Aku ngerti kok kalau bisnis ga jalan beberapa bulan dianggap gagal, padahal itu baru fase permulaan banget dan belum bisa dievaluasi karena tidak cukup data.

    Dulu pas diperkuliahan terakhir aku pernah memulai membuat sabun handmade sebagai proyek kelulusan plus untuk memulai bisnis di Aussie, tapi aku menyadari kalau aku kurang suka membuat sabun handmade. Ini karena aku memang ga sabaran dan memang ga ada motivasi yang bagus untuk memulai ini. Aku cuma mau lulus aja.

    Aku akhirnya menyelesaikan branding aja dan membuat presentasi untuk kelulusan. Tidak ada lagi kelanjutan. Berhubung pada saat itu baru mulai masuk ke fase COVID-19, aku memutuskan pulang dan aku buang semua packaging dan bahan-bahan untuk membuat sabun. Yah padahal aku sudah desain cakep. Yah pemikiran bocah gimana sih gaes. Yang pasti disini aku rugi lumayan banyak karena cepat menyerah.

    Yes, intinya di posisi ini aku lebih cepat menyerah dan tidak punya banyak data untuk dievaluasi lagi.

Pada akhirnya, aku tuh bersyukur banget sudah mengalami ini karena dapat banyak pembelajaran untuk berbisnis dikemudian hari. Semakin bertambahnya umur, semakin dewasa pemikiranku dan bijak dalam memutuskan sesuatu. Akan tetapi masih banyak banget pembelajaran-pembelajaran menanti ketika memulai bisnis lain, jadi tetep up-to-date dan terus belajar.